Kamis, 24 Mei 2012

Totaliter dan Cinta

      Siang itu, aku hanya bisa terdiam di sebuah aula dan aku terduduk di sebuah tempat tidur besi yang sudah mulai karatan. Di dalam ruangan itu tidak hanya ada aku, namun banyak para perempuan yang tidak tahu masa depan mereka akan seperti apa. Seorang laki-laki berkumis tebal tersebut mondar mandir di ruangan besar itu sambil memperhatikan para perempuan satu persatu dan dengan tegas ia memberikan perintah kepada semuanya. Ia adalah pemimpin yang totaliter. Ia tidak bisa dibantah, semua rakyatnya tunduk kepadanya dan semua keputusan ada pada dirinya. Namun, satu yang aneh, mengapa laki-laki dan perempuan harus dipisahkan?
   Beberapa jam setelah ia pergi meninggalkan ruangan itu, pesta dimulai, para lelaki yang awalnya tidak berani memasuki ruang besar itu, tiba-tiba mereka saling membaur dan ikut berpesta. Semua berdansa dan bernyanyi bersama. Tiba-tiba sebuah tangan meraih tanganku dan mengajakku untuk berlari dan terus berlari menjauh. Senyum itu akhirnya muncul juga dan senyum itu berubah menjadi tawa. Tangan itu adalah tangan lelaki yang sudah dinanti dari dulu. Tangan yang bisa membawa kepada kebahagiaan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar