A.
Pengertian
Televisi
Televisi adalah sebuah media
telekomunikasi terkenal yang berfungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak
beserta suara, baik itu yang monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata
"televisi" merupakan gabungan dari kata tele (jauh) dari bahasa
Yunani dan visio (penglihatan) dari bahasa Latin, sehingga televisi dapat
diartikan sebagai “alat komunikasi jarak jauh yang menggunakan media
visual/penglihatan.”
B.
Televisi Analog
Televisi analog
mengkodekan informasi gambar dengan memvariasikan voltase dan/atau frekuensi
dari sinyal. Seluruh sistem sebelum Televisi digital dapat dimasukan ke analog.
C.
Televisi Digital
1.
Pengertian
Televisi Digital
Televisi digital atau DTV adalah jenis
televisi yang menggunakan modulasi digital dan sistem kompresi untuk menyiarkan
sinyal gambar, suara, dan data ke pesawat televisi. Televisi digital merupakan
alat yang digunakan untuk menangkap siaran TV digital, perkembangan dari sistem
siaran analog ke digital yang mengubah informasi menjadi sinyal digital
berbentuk bit data seperti komputer.
2.
Pemicu
perkembangan
Pendorong pengembangan televisi
digital antara lain:
Perubahan lingkungan eksternal
§
Pasar
televisi analog yang sudah jenuh
Perkembangan teknologi
§
Teknologi
pemrosesan sinyal digital
§
Teknologi
transmisi digital
§
Teknologi semikonduktor
§
Teknologi
peralatan yang beresolusi tinggi
3. Frekuensi TV digital
Secara teknis, pita spektrum frekuensi radio yang digunakan
untuk televisi analog dapat digunakan untuk penyiaran televisi digital.
Perbandingan lebar pita frekuensi yang digunakan
teknologi analog dengan teknologi digital adalah 1 : 6. Jadi, bila
teknologi analog memerlukan lebar pita 8 MHz untuk satu kanal transmisi,
teknologi digital dengan lebar pita yang sama (menggunakan teknik multipleks)
dapat memancarkan sebanyak 6 hingga 8 kanal transmisi sekaligus untuk program
yang berbeda.
TV digital ditunjang oleh teknologi
penerima yang mampu beradaptasi sesuai dengan lingkungannya. Sinyal digital
dapat ditangkap dari sejumlah pemancar yang membentuk jaringan berfrekuensi
sama sehingga daerah cakupan TV digital dapat diperluas. TV digital memiliki
peralatan suara dan gambar berformat digital seperti yang digunakan kamera video.
4. Sistem
pemancar TV digital
Terdapat tiga standar sistem
pemancar televisi digital di dunia, yaitu televisi digital (DTV) di Amerika,
penyiaran video digital terestrial (DVB-T) di Eropa, dan layanan
penyiaran digital terestrial terintegrasi (ISDB-T) di Jepang. Semua
standar sistem pemancar sistem digital berbasiskan sistem pengkodean OFDM dengan kode
suara MPEG-2 untuk
ISDB-T dan DTV serta MPEG-1 untuk DVB-T.
Dibandingkan dengan DTV dan DVB-T,
ISDB-T sangat fleksibel dan memiliki kelebihan terutama pada penerima dengan sistem
seluler. ISDB-T terdiri dari ISDB-S untuk transmisi melalui kabel dan ISDB-S
untuk tranmisi melalui satelit. ISDB-T dapat diaplikasikan pada sistem dengan
lebar pita 6,7MHz dan 8MHz. Fleksibilitas ISDB-T bisa dilihat dari mode yang
dipakainya, dimana mode pertama digunakan untuk aplikasi seluler televisi
berdefinisi standar (SDTV),
mode kedua sebagai aplikasi penerima seluler dan SDTV atau televisi berdefinisi
tinggi (HDTV)
beraplikasi tetap, serta mode ketiga yang khusus untuk HDTV atau SDTV bersistem
penerima tetap. Semua data modulasi sistem pemancar ISDB-T dapat diatur untuk QPSK
dan 16QAM atau 64QAM. Perubahan mode ini bisa diatur melalui apa yang disebut
kontrol konfigurasi transmisi dan multipleks (TMCC).
Frekuensi sistem penyiaran televisi
digital dapat diterima menggunakan antena yang disebut televisi terestrial
digital (DTT), kabel (TV kabel digital),
dan piringan satelit. Alat serupa telepon
selulerdigunakan terutama untuk menerima frekuensi televisi digital
berformat DMB dan DVB-H. Siaran televisi digital juga dapat diterima
menggunakan internet berkecepatan tinggi yang dikenal sebagai
televisi protokol internet (IPTV).
5. Transisi TV Analog ke TV Digital
Transisi dari pesawat televisi analog menjadi pesawat
televisi digital membutuhkan penggantian perangkat pemancar televisi dan penerima
siaran televisi. Agar dapat menerima penyiaran digital, diperlukan pesawat TV
digital.
Namun, jika ingin tetap menggunakan pesawat penerima
televisi analog, penyiaran digital dapat ditangkap dengan alat tambahan yang
disebut rangkaian konverter (Set Top Box). Sinyal siaran digital diubah oleh
rangkaian konverter menjadi sinyal analog, dengan demikian pengguna pesawat
penerima televisi analog tetap bisa menikmati siaran televisi digital. Dengan
cara ini secara perlahan-lahan akan beralih ke teknologi siaran TV digital
tanpa terputus layanan siaran yang digunakan selama ini.
Proses transisi yang berjalan secara perlahan dapat
meminimalkan risiko kerugian terutama yang dihadapi oleh operator televisi dan
masyarakat. Resiko tersebut antara lain berupa informasi mengenai program
siaran dan perangkat tambahan yang harus dipasang tersebut. Sebelum masyarakat
mampu mengganti televisi analognya menjadi televisi digital, masyarakat
menerima siaran analog dari pemancar televisi yang menyiarkan siaran televisi
digital.
Bagi operator televisi, risiko kerugian berasal dari
biaya membangun infrastruktur televisi digital terestrial yang relatif jauh
lebih mahal dibandingkan dengan membangun infrastruktur televisi analog.
Operator televisi dapat memanfaatkan infrastruktur penyiaran yang telah
dibangunnya selama ini seperti studio, bangunan, sumber daya manusia dan lain
sebagainya.
Apabila operator televisi dapat menerapkan pola kerja
dengan calon penyelenggara TV digital. Penerapan pola kerja dengan calon
penyelenggara digital pada akhirnya menyebabkan operator televisi tidak
dihadapkan pada risiko yang berlebihan. Di kemudian hari, penyelenggara
penyiaran televisi digital dapat dibedakan ke dalam dua posisi yaitu menjadi
penyedia jaringan, serta penyedia isi.
Televisi set dengan hanya tuner analog tidak bisa
decode transmisi digital. Ketika penyiaran analog melalui udara berhenti,
pengguna set dengan analog-hanya tuner dapat menggunakan sumber pemrograman
(misalnya kabel, perekam) atau dapat membeli set-top box konverter untuk
mendengarkan sinyal digital. Di Amerika Serikat, kupon yang disponsori
pemerintah yang tersedia untuk meringankan biaya sebuah kotak konverter
eksternal. Switch off-analog (penuh daya stasiun) berlangsung pada tanggal 12
Juni 2009 di Amerika Serikat, 24 Juli 2011 di Jepang, 31 Agustus 2011 di
Kanada, 13 Februari 2012 di Negara-negara Arab, dan dijadwalkan untuk 24
Oktober 2012 di Inggris dan Irlandia, pada tahun 2013 di Australia, pada tahun
2015 di Filipina dan Uruguay, pada 2017 di Kosta Rika dan pada 2018 di
Indonesia.
6. Perkembangan TV Digital Di Indonesia
Hampir semua stasiun TV penyiaran
baik TVRI maupun TV swasta nasional telah memanfaatkan sistem teknologi penyiaran dengan teknologi digital khususnya pada
sistem perangkat studio untuk
memproduksi program, melakukan penyuntingan, perekaman dan penyimpanan data.
Pengiriman sinyal gambar, suara dan data telah menggunakan sistem transmisi
digital dengan menggunakanpemancar. Sistem transmisi digital melalui pemancar ini menggunakan standar yang
disebut DVB-T (Digital Video Broadcasting
Terestrial).
Untuk DVB-T :
·
Lembaga
Penyiaran Publik TVRI
·
Konsorsium
TV Digital Indonesia (KTDI): SCTV, ANTV, TransTV, Trans7, TV One, Metro TV
·
Terrestre
Citra Network Televes (DVB-T): Saudi CH1, MBC 1, OSN First, Arabic Series
Channel, Al Yawm, LBC Sat, JSC, MBC Action, MBC 4, OSN News, Fox Middle East,
TV lokal
·
Nilesat
(DVB-S, DMB-T)
·
Ultraflu Sat
(LCN DVB-S2)
·
Ultracap Sat
(LCN DVB-S2)
·
Arabsat
(DVB-S, DMB-S)
·
Badr (DVB-S,
DMB-T)
·
Mozaic TV+
(LCN DVB-T2)
Untuk DVB-H :
·
Telkom Tbk
(Telkomsel dan TELKOMVision)
·
Qatar
Telecom
·
STC
·
Zain KSA
(didukung oleh TV grup MBC: MBC 1, MBC 4, MBC Action, MBC 2)
·
Mobily
(didukung oleh TV grup Emtek: SCTV, Indosiar, O Channel)
·
Etisalat
·
du
·
Zain Kuwait
·
Mobile-8
Telecom Tbk (didukung oleh TV grup MNC: RCTI, Global, TPI)
D.
Perbedaan TV
Analog dengan TV Digital
Perbedaan TV Digital dan TV Analog hanyalah
perbedaan pada sistim tranmisi pancarannya.
1.
Penerimaan
gambar lewat pemancar
Pada sistem
analog, semakin jauh dari stasiun pemancar televisi, sinyal akan melemah dan
penerimaan gambar menjadi buruk dan berbayang. Sedangkan pada sistem digital,
siaran gambar yang jernih akan dapat dinikmati sampai pada titik dimana sinyal
tidak dapat diterima lagi.
Kebanyakan TV di
Indonesia, masih menggunakan sistim analog dengan cara memodulasikannya
langsung pada Frekwensi Carrier, Sedangkan pada Pada sistim digital, data
gambar atau suara dikodekan dalam mode digital (diskret) baru di pancarkan.
Pada TV analog
satu pemancar dengan pemancar lainnya harus dengan frekwensi berbeda. Jika
dengan mode Digital, satu frekwensi bisa memancarkan banyak siaran TV.
2.
Sinyal
TV analog
signalnya lemah (semisal problem pada antena) maka gambar yang diterima akan
banyak ‘semut’ tetapi jika TV Digital yang terjadi adalah bukan ‘semut’
melainkan gambar yang lengket seperti kalau kita menonton VCD yang rusak.
Kualitas Digital jadi lebih bagus, karena dengan Format digital banyak hal
dipermudah.
Keunggulan TV digital :
1.
High
Definition. 5~6 kali lebih halus dibanding televisi analog
2.
Finest
sound. Kemampuan mereproduksi suara seperti sumber aslinya
3.
Multifunction.
Memberi kemampuan untuk merekam dan mengedit siaran
4.
Multichannel
(satu saluran dapat diisi lebih dari 5 program yang berbeda)
E.
Dampak TV
Digital
1. Dampak
Positif
Banyak manfaat yang dapat diperoleh masyarakat dengan beralih ke penyiaran TV digital antara lain:
• Kualitas gambar yang lebih halus dan tajam,
• Pengurangan terhadap efek noise,
• Kemudahan untuk recovery pada penerima dengan error correction code, serta
• Mengurangi efek dopler jika menerima siaran tv dalam kondisi bergerak (misalnya di mobil, bus, maupun kereta api).
• Selain itu sinyal digital dapat menampung program siaran dalam satu paket, dikarenakan pemakaian bandwidth pada tv digital tidak sebesar tv analog.
Banyak manfaat yang dapat diperoleh masyarakat dengan beralih ke penyiaran TV digital antara lain:
• Kualitas gambar yang lebih halus dan tajam,
• Pengurangan terhadap efek noise,
• Kemudahan untuk recovery pada penerima dengan error correction code, serta
• Mengurangi efek dopler jika menerima siaran tv dalam kondisi bergerak (misalnya di mobil, bus, maupun kereta api).
• Selain itu sinyal digital dapat menampung program siaran dalam satu paket, dikarenakan pemakaian bandwidth pada tv digital tidak sebesar tv analog.
2. Dampak
Negatif
Disamping banyak hal yang bermanfaat, tentunya kendala yang akan dihadapi dalam migrasi ke siaran TV digital pun juga semakin banyak seperti:
• Regulasi bidang penyiaran yang harus diperbaiki,
• Standardisasi yang harus segera ditentukan baik untuk perangkat dan teknologi yang akan digunakan,
• Industri pendukung yang harus segera disiapkan baik perangkat maupun kontennya.
• Jika kanal TV digital ini diberikan secara sembarangan kepada pendatang baru, selain penyelenggara TV siaran digital terrestrial harus membangun sendiri infrastruktur dari nol, maka kesempatan bagi penyelenggara TV analog eksisting seperti TVRI, 5 TV swasta eksisting dan 5 penyelenggara TV baru untuk berubah menjadi TV digital di kemudian hari akan tertutup karena kanal frekuensinya sudah habis.
Disamping banyak hal yang bermanfaat, tentunya kendala yang akan dihadapi dalam migrasi ke siaran TV digital pun juga semakin banyak seperti:
• Regulasi bidang penyiaran yang harus diperbaiki,
• Standardisasi yang harus segera ditentukan baik untuk perangkat dan teknologi yang akan digunakan,
• Industri pendukung yang harus segera disiapkan baik perangkat maupun kontennya.
• Jika kanal TV digital ini diberikan secara sembarangan kepada pendatang baru, selain penyelenggara TV siaran digital terrestrial harus membangun sendiri infrastruktur dari nol, maka kesempatan bagi penyelenggara TV analog eksisting seperti TVRI, 5 TV swasta eksisting dan 5 penyelenggara TV baru untuk berubah menjadi TV digital di kemudian hari akan tertutup karena kanal frekuensinya sudah habis.
F.
Manfaat penyiaran TV Digital
1. TV
Digital digunakan untuk siaran interaktif. Masyarakat dapat membandingkan
keunggulan kualitas siaran digital dengan siaran analog serta dapat
berinteraksi dengan TV Digital.
2. Teknologi
siaran digital menawarkan integrasi dengan layanan interaktif dimana TV Digital
memiliki layanan komunikasi dua arah layaknya internet.
3. Siaran
televisi digital terestrial dapat diterima oleh sistem penerimaan televisi
tidak bergerak maupun sistem penerimaan televisi bergerak. Kebutuhan daya
pancar televisi digital yang lebih kecil menyebabkan siaran dapat diterima
dengan baik meski alat penerima siaran bergerak dalam kecepatan tinggi seperti
di dalam mobil dan kereta.
4. TV
Digital memungkinkan penyiaran saluran dan layanan yang lebih banyak daripada
televisi analog. Penyelenggara siaran dapat menyiarkan program mereka secara
digital dan memberi kesempatan terhadap peluang bisnis pertelevisian dengan
konten yang lebih kreatif, menarik, dan bervariasi.
G.
Prospek Masa
Depan Penyiaran TV di Indonesia dengan Adanya Digitalisasi Sistem Siaran TV
Dengan
adanya kemajuan dalam teknologi di Indonesia, sudah seharusnya kita merasa
bangga. Karena tidak ada lagi kata ketertinggalan dalam segi teknologi. Namun
transisi dari perpindahan TV Analog ke TV Digital tidak mudah, banyaknya
tanggapan dari masyarakat atau pengguna yang berbeda-beda.
Transisi
dari pesawat televisi analog menjadi pesawat televisi digital membutuhkan
penggantian perangkat pemancar televisi dan penerima siaran televisi. Agar
dapat menerima penyiaran digital, diperlukan pesawat TV digital. Namun, jika
ingin tetap menggunakan pesawat televisi analog, penyiaran digital dapat ditangkap
dengan alat tambahan yang disebut kotak konverter (Set Top Box). Ketika
menggunakan pesawat televisi analog, sinyal penyiaran digital akan dirubah oleh
kotak konverter menjadi sinyal analog. Dengan demikian pengguna pesawat
televisi analog tetap dapat menikmati siaran televisi digital. Pengguna
televisi analog tetap dapat menggunakan siaran analog dan secara perlahan-lahan
beralih ke teknologi siaran digital tanpa terputus layanan siaran yang
digunakan selama ini.
Proses
transisi yang berjalan secara perlahan dapat meminimalkan risiko kerugian
terutama yang dihadapi oleh operator televisi dan masyarakat. Resiko tersebut
antara lain berupa informasi mengenai program siaran dan perangkat tambahan
yang harus dipasang tersebut. Sebelum masyarakat mampu mengganti televisi
analognya menjadi televisi digital, masyarakat menerima siaran analog dari
pemancar televisi yang menyiarkan siaran televisi digital.
Bagi
operator televisi, risiko kerugian berasal dari biaya membangun infrastruktur
televisi digital terestrial yang relatif jauh lebih mahal dibandingkan dengan
membangun infrastruktur televisi analog. Operator televisi dapat memanfaatkan
infrastruktur penyiaran yang telah dibangunnya selama ini seperti studio,
bangunan, sumber daya manusia, dan lain sebagainya apabila operator televisi
dapat menerapkan pola kerja dengan calon penyelenggara TV digital. Penerapan
pola kerja dengan calon penyelenggara digital pada akhirnya menyebabkan
operator televisi tidak dihadapkan pada risiko yang berlebihan. Di kemudian hari,
penyelenggara penyiaran televisi digital dapat dibedakan ke dalam dua posisi
yaitu menjadi penyedia jaringan, serta penyedia isi.
Namun,
dari lain pihak semakin berkembangnya digitalisasi akan lebih baik dan lebih
efisien. Akan banyak manfaat manfaat yang akan dirasakan oleh masyarakat dan perusahaan
penyiaran itu sendiri. Manfaat adanya digitalisasi :
Pemirsa juga dapat memilih sendiri kapan akan
menonton, remote tidak lagi untuk memilih saluran tapi juga untuk melihat
simpanan program, (siaran interaktif). Televisi yang menjadi siaran interaktif
akan lebih memudahkan pemirsanya untuk mencari-cari program yang dia sukai.
Tidak ada lagi prime-time karena saat itu pemirsa dapat mencari program lain
yang dibutuhkan.
Penerimaan
mobile, efisiensi kanal frekuensi, dan potensi jasa tambahan seperti TV Interaktif
dan layanan data-casting. Aplikasi
teknologi siaran digital menawarkan integrasi dengan layanan multimedia lainnya
serta integrasi dengan layanan interaktif seperti Video on Demand (VoD), Pay
Per View (PPV), bahkan layanan komunikasi dua arah seperti teleconference
H.
Dampak Adanya
Sistem Siaran Digital TV di Indonesia
Saat ini populasi pesawat televisi
tidak kurang dari 40 juta unit, dengan pemirsa lebih dari 200 juta orang, jauh
lebih banyak dibandingkan dengan komputer, misalnya, yang hanya sekitar 5,9
juta unit. Terlihat bahwa penggemar televisi begitu banyak di Indonesia .
Kemunculan televisi digital di
indonesia harus dipikirkan dampak dan konsekuensinya karena selama ini masih
banyak masyarakat yang menggunakan dan terbiasa dengan televisi telivisi
analog. Sedikit ketidaknyamanan yang mau tidak mau harus diterima dengan
peralihan ke TV digital ini adalah:
Dampak
yang timbul dengan adanya system siaran digital tv di indonesia
akan banyak mempunyai pengaruh yang positif dibandingkan pengaruh negatifnya.karena dalam era globalisasi ini kemajuan technologi sangatlah penting pada negara berkembang seperti Indonesia.karena untuk mengejar ketertinggalan dengan negara lain yang sudah lebih dulu menggunakan tv digital.
Sedikit ketidaknyamanan yang mau tidak mau harus diterima dengan peralihan ke TV digital ini adalah perlunya pesawat TV baru atau paling tidak kita perlu membeli TV Tuner baru yang harganya bisa berkisar 10.000 yen (sekitar 1 juta rupiah). Untuk membuka kesempatan bagi pendatang baru di dunia TV siaran digital ini, maka dapat ditempuh pola Kerja Sama Operasi antar penyelenggara TV eksisting dengan calon penyelenggara TV digital. Sehingga di kemudian hari penyelenggara TV digital dapat dibagi menjadi "network provider" dan "program / content provider".
Jika kanal TV digital ini diberikan secara sembarangan kepada pendatang baru, selain penyelenggara TV siaran digital terrestrial harus membangun sendiri infrastruktur dari nol, maka kesempatan bagi penyelenggara TV analog eksisting seperti TVRI, 5 TV swasta eksisting dan 5 penyelenggara TV baru untuk berubah menjadi TV digital di kemudian hari akan tertutup karena kanal frekuensinya sudah habis.
akan banyak mempunyai pengaruh yang positif dibandingkan pengaruh negatifnya.karena dalam era globalisasi ini kemajuan technologi sangatlah penting pada negara berkembang seperti Indonesia.karena untuk mengejar ketertinggalan dengan negara lain yang sudah lebih dulu menggunakan tv digital.
Sedikit ketidaknyamanan yang mau tidak mau harus diterima dengan peralihan ke TV digital ini adalah perlunya pesawat TV baru atau paling tidak kita perlu membeli TV Tuner baru yang harganya bisa berkisar 10.000 yen (sekitar 1 juta rupiah). Untuk membuka kesempatan bagi pendatang baru di dunia TV siaran digital ini, maka dapat ditempuh pola Kerja Sama Operasi antar penyelenggara TV eksisting dengan calon penyelenggara TV digital. Sehingga di kemudian hari penyelenggara TV digital dapat dibagi menjadi "network provider" dan "program / content provider".
Jika kanal TV digital ini diberikan secara sembarangan kepada pendatang baru, selain penyelenggara TV siaran digital terrestrial harus membangun sendiri infrastruktur dari nol, maka kesempatan bagi penyelenggara TV analog eksisting seperti TVRI, 5 TV swasta eksisting dan 5 penyelenggara TV baru untuk berubah menjadi TV digital di kemudian hari akan tertutup karena kanal frekuensinya sudah habis.
Momentum penyiaran digital dapat
membuka peluang yang lebih banyak bagi masyarakat dalam meningkatkan kemampuan
ekonominya. Peluang usaha di bidang rumah produksi, pembuatan aplikasi-aplikasi
audio, video dan multimedia, industri senetron, film, hiburan, komedi dan
sejenisnya menjadi potensi baru untuk menghidupkan ekonomi masyarakat.
Televisi di Indonesia telah menjadi
alat penting baik untuk hiburan maupun untuk mendapatkan informasi. Baik
televisi digital maupun analog dalam penyiarannya memiliki kesamaan yaitu
memiliki dampak psikologis terhadap penontonnya. Dengan frekuensi menonton yang
tinggi dan kualitas tontonan yang rendah akan berdampak buruk baik pada orang
dewasa maupun pada pada anak – anak.
Sistem penyiaran TV Digital
penggunaan apliksi teknologi digital pada sistem penyiaran TV yang dikembangkan
di pertengahan tahun 90an dan diujicobakan pada tahun 2000. Pada awal
pengoperasian sistem digital ini umumnya dilakukan siaran TV secara bersama
dengan siaran analog sebagai masa transisi. Sekaligus ujicoba sistem tersebut
sampai mendapatkan hasil penerapan siaran TV Digital yang paling ekonomis
sesuai dengan kebutuhan dari negara yang mengoperasikan.
sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Televisi
http://id.wikipedia.org/wiki/Televisi_analog
http://id.wikipedia.org/wiki/Televisi_digital
Aprilia Nia Ardiyanti
153100091
sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Televisi
http://id.wikipedia.org/wiki/Televisi_analog
http://id.wikipedia.org/wiki/Televisi_digital
Aprilia Nia Ardiyanti
153100091
Tidak ada komentar:
Posting Komentar