“Menjadi
seorang sutradara bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Sutradara adalah ‘Tuhan’
yang maha mengetahui tentang jalan cerita sebuah film yang sedang diproduksi. Seorang
sutradara harus sangat memahami jalan cerita film yang sedang dibuat,” ungkap
Intan Kusuma Cahyani, sutradara film pendek Fantasiana, Minggu (8/4), di
Sitisewu Yogyakarta, salah satu lokasi pembuatan film Fantasiana.
Menjadi sutradara adalah pengalaman pertama
bagi Intan. Disetiap pembuatan film pendek, ia seringkali menjadi penata kostum
atau pimpinan produksi. Namun, dalam pembuatan film pendek kali ini, ia
mendapat tantangan dari teman-temannya untuk menjadi seorang sutradara.
Namun, untuk
menentukan gambar yang diambil oleh kameramen, Intan seringkali ragu, sehingga
keraguan dirinya dapat membuat kru-kru film yang lain down. “Seringkali, dalam menentukan gambar yang paling bagus yang diambil oleh
kameramen, Intan masih ragu, sering ia mengatakan, ‘aktingnya sih oke, tapi gimana ya? Bungkus aja deh’ kata-kata seperti itu
sebenarnya membuat kru-kru yang lain down,
karena kami berfikir bahwa sepertinya gambar yang diambil itu tidak bagus,
tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh sutradara,” ungkap Yosafat Novan,
asisten sutradara film pendek Fantasiana.
Menjadi
seorang sutradara sangat tidak mudah menurut Novan, ia harus
menentukan gambar mana yang paling bagus dinilai dari segi art, akting, gerak
kamera, suara, pencahayaan, dan semuanya yang dapat mempengaruhi hasil akhir
dari sebuah film. Sehingga sutradara harus bisa bekerjasama dan saling percaya
kepada setiap kru-kru yang membantu dalam pembuatan film seperti asisten
sutradara, kameramen, art, penata cahaya, dan lain-lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar